Definisi dan Kondisi Reklamasi Tambang atau Mine Reclamation Definition and Condition

Definisi dan Kondisi Reklamasi Tambang atau Mine Reclamation Definition and Condition

 

Definisi Reklamasi Tambang

Lahan pasca tambang yang terdegradasi karena tidak ada usaha melakukan rehabilitasi menimbulkan relief morfologi yang ekstrim, berupa bukit atau gundukan besar atau lobang atau cekungan besar. Pada waktu musim hujan, bukit tersebut rawan longsor, dan cekungan besar tersebut berubah menjadi kubangan besar.

 

Menurut UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.

 

Sedangkan menurut Young dan Chan (1997) reklamasi berasal dari kata to reclaim yakni bermakna to bring back to proper state, artinya adalah membuat kondisi menjadi lebih baik untuk pembudidayaan atau membuat sesuatu yang sudah baik menjadi lebih baik, serta  tidak mengandung implikasi pemulihan kekondisi asal tetapi lebih mengutamakan fungsi dan azas pemanfaatan lahan

 

Terkait dengan penutupan, Kunanayagam (2006) mengatakan bahwa kurang lebih 15 tahun yang lalu rencana penutupan tambang masih mencakup aspek-aspek perekayasaan dari penyerahan daerah operasi dan aspek-aspek yang terkait pada teknik perbaikan lingkungan saja. Tetapi, pada akhirnya perusahaan-perusahaan pertambangan terkemuka mempelopori perlunya penutupan tambang dilakukan melalui sebuah pendekatan terpadu  yaitu sosial, lingkungan hidup, kerekayasaan, dan keuangan.

 

Penerapan pembangunan berkelanjutan di pertambangan adalah bagaimana sektor ini berkontribusi kepada kemakmuran dan kesejahteraan manusia pada saat ini tanpa mengurangi potensi dari generasi mendatang untuk melakukan hal yang sama (MMSD, 2002). Implementasi dari prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan pada industry pertambangan, termasuk pada kegiatan penutupan tambang tidaklah mudah dan menemui kendala.

 

Tantangan-tantangan industri tambang kedepan adalah menerapkan pembangunan berkelanjutan pada seluruh siklus hidup tambang, pengembangan teknologi yang ramah lingkungan melalui penerapan produksi bersih, dan membangun kemampuan untuk memelihara keseimbangan antara profit dan perlindungan lingkungan hidup (Moore dan Noller, 2000). Perusahaan didorong memiliki tanggung jawab etika (ethical responsibility) dalam berperan pada pelestarian, memastikan kehadirannya memberikan manfaat nyata kepada ekosistem, dan daerah yang ditinggalkannya akan berkondisi lebih baik dibandingkan dengan sebelum ditambang (Sweeting, 2000). Bagi Indonesia selain tantangan tersebut, tantangan lainnya adalah pencapaian tujuan-tujuan pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs): pengentasan kemiskinan dan kelaparan, pencapaian kebutuhan pendidikan dasar, memastikan lingkungan hidup berkelanjutan, dan lainnya.

 

Penutupan tambang memerlukan teknologi yang tepat. Sebab bila tidak, munculnya sisa-sisa kerusakan lingkungan setelah pekerjaan reklamasi dan penutupan tambang selesai sangat tergantung dari pengembangan dan teknik-teknik reklamasi yang dipilih (Robertson dan Shaw,1998). Kegiatan penutupan juga memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk pemulihan yang bersifat fisik bentang alam, penyelesaian masalah tenaga kerja dan masalah lainnya. Sebagai contoh, sebuah industri batu-bara muda di Jerman memerlukan biaya lebih dari 5 milyar dollar Amerika untuk rehabilitasi daerah tambang, stabilisasi tempat pembuangan limbah yang luas, pembongkaran dari fasilitas dan peralatan pendukung. Di Polandia penutupan satu sampai tiga tambang batu bara memerlukan biaya 500 juta dollar Amerika untuk uang pesangon 100 orang pekerja dan 1,5 milyar dollar Amerika untuk kegiatan penutupan fisik (World Bank dan IFC, 2002).

 

Kegiatan penutupan tambang juga memerlukan keterlibatan Para Pemangku Kepentingan atau stakeholder. Di Indonesia keterlibatan stakeholder masih rendah, khususnya pemerintah daerah dan pusat dalam memimpin kegiatan-kegiatan pembangunan ekonomi lain selain dari tambang jauh sebelum masa penutupan tambang. Absennya keterlibatan stakeholder merupakan salah satu pemicu terjadinya konflik di hampir semua daerah pertambangan. Keterlibatan stakeholder dalam perencanaan penutupan tambang serta pembuatan keputusan merupakan hal yang kritis dalam pencapaian penyelesaian penambangan dan keberlanjutan hasil-hasil (AGDITR, 2006).

 

Tujuan akhir dari reklamasi adalah memperbaiki bekas lahan tambang agar kondisinya aman, stabil dan tidak mudah tererosi sehingga dapat dimanfaatkan kembali (Darwo, 2003). Penetapan tujuan reklamasi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Jenis mineral yang di tambang.
  2. Sistem penambangan yang digunakan.
  3. Keadaan lingkungan setempat.
  4. Keadaan dan kebutuhan sosial-ekonomis masyarakat setempat.
  5. Keekonomian investasi mineral.
  6. Perencanaan tata ruang yang telah ada

reklamasi batubara

Kondisi Lahan Pasca Tambang

Lahan mempunyai pengertian yang lebih kuat dari tanah. Lahan terdiri dari lingkungan fisik yang meliputi iklim, relief, tanah, hidrologi dan vegetasi. Sedangkan tanah adalah permukaan bumi yang terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organic, air dan udara yang tersusun oleh horizon-horizon tanah dan merupakan media tumbuh tanaman (FAO, 1976). Mengingat fungsi lahan yang demikian penting, maka dalam pengelolaanya harus diciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan lahan, sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Agar tercipta hubungan tersebut maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuannya, karena lahan mempunyai batas kemampuan untuk mendukung berbagai kegiatan manusia.

 

Pengelolaan lahan yang berkesinambungan memiliki beberapa syarat seperti

  1. Kualitas sumberdaya lahan tidak menurun
  2. Terjaminnya sumberdaya air
  3. Terdapat keterpaduan antara system biologi dan system pengelolaan lahan
  4. Secara ekonomi menguntungkan
  5. Terjaminnya pemenuhan kebutuhan masyarakat

 

Kegiatan reklamasi dilakukan untuk memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu. Kegiatan ini memerlukan waktu yang cukup lama khususnya apabila dilihat dari perkembangan tanah itu sendiri. Proses perkembangan tanah akan menghasilkan horison-horison genetik pada tubuh tanah yang bersangkutan sehingga dapat diperoleh sifat-sifat morfologi dari setiap profil tanah. Perkembangan tanah ini antara lain dipengaruhi oleh bahan organic dan organisme tanah (jumlah dan jenis mikrob tanah) yang akan merombak bahan organik sehingga dapat memperbaiki tanah yang terganggu.

 

Menurut Charles et al.(2001) pada tanah kering akan mudah terjadi pelepasan partikel partikel tanah secara individual dari massa tanah. Nilai tengah kadar liat hampir mempunyai nilai yang seimbang, karena pada saat aktifitas penyingkapan permukaan tanah sampai dengan lapisan dibawahnya, muncul bahan induk kepermukaan yang berupa liat (Charles et a,. 2001).

 

Penelitian yang dilakukan Lorenzo et al,. (1996) ditiga lokasi lahan pasca tambang yang berada di Pocos de Caldas, Spanyol setelah ditinggalkan 50 tahun vegetasi baru tumbuh dengan ketinggian 0,59 meter dengan jumlah spesies 30, didalam area 45,37 m2 terdapat 32 pohon, sehingga rata-rata tiap m2 hanya 0,3 pohon (tidak terdapat satu pohon). Dalam proses rehabilitasi lahan unsur vegetasi sangat diperlukan, karena selain fungsinya mengamankan permukaan tanah dari erosi juga berfungsi sebagai sumber unsur hara.

 

Reklamasi lahan pasca tambang di Negara-negara maju diatur secara gambling dalam  Undang-Undang. Pelaksanaannya dikontrol sangat ketat oleh warga negara dan pemerintah daerah. Sebagai contoh, di Negara bagian Illinois USA. Pemerintah atas nama negara mengamankan sumberdaya lahan agar tidak rusak pada aktifitas eksploitasi tambang batubara terbuka. Supervisi reklamasi lahan dilakukan oleh pemerintah daerah yang didukung dengan Undang-Undang tentang perlindungan sumberdaya lahan dengan perangkat aturan pelaksanaannya (Arnold.2001).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top